Sifat Nama-Nama Allah Adalah Husna
Sifat Nama-Nama Allah Adalah Husna adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 24 Rajab 1447 H / 13 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Sifat Nama-Nama Allah Adalah Husna
Selain anjuran berdoa, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan peringatan keras agar tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya. Penyimpangan terhadap nama-nama Allah memiliki banyak bentuk, di antaranya:
- Menamai berhala dengan nama Allah: Sebagaimana kaum musyrikin menamai Latta yang diambil dari kata Ilah, Uzza dari kata Al-Aziz, dan Manah dari kata Al-Mannan.
- Memberi nama bagi Allah tanpa dalil: Memberikan nama yang tidak pernah Allah gunakan untuk menamai diri-Nya sendiri, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits. Contohnya adalah orang Nasrani yang menyebut Allah dengan “Bapak”, atau ahli filsafat yang menyebut Allah dengan istilah ‘Illat al-Fā‘ilah.
- Menolak sifat yang terkandung dalam nama: Sebagaimana keyakinan kaum Mu’tazilah yang menganggap nama Allah hanyalah sebatas label tanpa kandungan sifat. Mereka meyakini Allah bernama Ar-Rahman namun tidak memiliki sifat kasih sayang (rahmah), atau bernama Al-Qawi namun tidak memiliki sifat kuat.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hisab yang sangat berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا…
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)
Makna Berdoa dengan Asmaul Husna
Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa berdoa dengan Asmaul Husna mencakup dua hal utama:
Pertama, Doa Masalah (Permintaan): Berdoa dengan bertawasul melalui nama-nama Allah yang sesuai dengan hajat yang diminta. Contohnya adalah ucapan, “Wahai Yang Maha Penyayang (Ya Arhamar Rahimin), sayangilah kami,” atau, “Wahai Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Ya Ghafurur Rahim), ampunilah kami.”
Kedua, Doa Ibadah: Doa ibadah dilakukan dengan merealisasikan konsekuensi ibadah dari setiap nama Allah. Jika seseorang meyakini nama Allah Al-Khabir (Yang Maha Besar), maka harus muncul rasa takut di dalam hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika ia meyakini nama Allah Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang), maka ia harus mewujudkan ibadah raja’ atau rasa harap yang besar akan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seseorang beriman kepada nama Allah Al-Hafizh (Yang Maha Menjaga), ibadah yang timbul adalah upaya untuk mendapatkan penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menjaga agama-Nya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi)
Demikian pula saat beriman kepada nama Allah Al-Alim (Yang Maha Mengetahui), akan muncul ibadah muraqabah, yaitu perasaan selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun berada. Kesadaran ini membuat seorang hamba lebih takut kepada pengawasan Allah daripada pengawasan kamera pengintai (CCTV) maupun manusia lainnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk meninggalkan orang-orang yang melakukan penyimpangan terhadap nama-nama-Nya. Penyimpangan tersebut merupakan perkara berat di mata Allah. Oleh karena itu, setiap muslim sangat ditekankan untuk mempelajari Asmaul Husna dengan pemahaman yang shahih, agar terhindar dari jalan kaum yang menyimpang.
Ancaman keras juga ditujukan bagi mereka yang menyimpang dalam memahami ayat-ayat Allah, termasuk ayat tentang sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang dari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami.” (QS. Fussilat[41]: 40)
Penyimpangan tersebut mencakup tindakan menolak ayat-ayat sifat atau menafsirkannya hanya berdasarkan akal tanpa dalil yang benar. Ibnu Katsir menegaskan bahwa mengharamkan pemahaman Al-Qur’an yang hanya bersandar pada akal semata.
Kesempurnaan Nama dan Sifat Allah
Setiap nama Allah mengandung sifat, namun tidak setiap sifat Allah dapat dijadikan nama. Karena syarat nama Allah haruslah bersifat husna, yaitu sempurna dari segala sisi. Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat marah, sebagaimana firman-Nya:
وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
“…dan Allah murka kepada mereka.” (QS. Al-Fath[48]: 6)
Meskipun Allah memiliki sifat marah, “Al-Ghadhib” (Maha Pemarah) tidak dijadikan sebagai nama-Nya, karena sifat marah hanya sempurna jika ditujukan kepada yang berhak menerimanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna, Maha-Agung, dan Maha Indah, Dia hanya dinamai dengan nama-nama yang paling baik dan disifati dengan sifat-sifat yang paling sempurna.
Perlu dipahami bahwa meskipun terdapat persamaan istilah antara sifat Allah dan makhluk, seperti sifat rahmah (kasih sayang), hakikatnya sangat berbeda. Kasih sayang makhluk terbatas sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk, sedangkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.
Kesamaan dalam penyebutan nama tidak mengharuskan adanya kesamaan dalam hakikat. Sebagai contoh, elang dan manusia sama-sama memiliki kemampuan melihat. Namun, penglihatan elang jauh lebih tajam karena mampu melihat mangsa dari jarak tiga mil, sedangkan manusia tidak memiliki kemampuan tersebut. Jika sesama makhluk saja memiliki perbedaan hakikat, maka perbedaan antara Khalik (Pencipta) dengan makhluk tentu jauh lebih besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh dipuji kecuali dengan pujian yang paling sempurna. Nama-nama-Nya adalah Asmaul Husna, yaitu nama yang paling baik dan tidak ada satupun nama lain yang dapat menggantikan kedudukan serta maknanya. Oleh karena itu, makhluk tidak berhak menyandang nama-nama kesempurnaan. Penggunaan nama seperti “Ar-Rahman” dengan tambahan alif lam (Al-Rahman) hanya milik Allah karena mengandung makna kesempurnaan mutlak.
Hal ini juga berlaku pada gelar As-Sayyid. Penggunaan alif lam pada kata As-Sayyid menunjukkan kemuliaan yang sempurna yang hanya milik Allah. Adapun bagi makhluk, penyebutan “sayyid” diperbolehkan selama tidak menggunakan alif lam yang bermakna kesempurnaan mutlak (istighraq), sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku adalah sayyid (pemimpin) anak Adam,” dengan menyandarkan kata tersebut kepada makhluk.
Asmaul Husna dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati nama-nama-Nya dengan husna di dalam empat ayat Al-Qur’an:
Surah Al-Isra ayat 110:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).`” (QS. Al-Isra[17]: 110)
Seluruh nama Allah menunjukkan kepada Dzat yang satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun masing-masing nama memiliki makna yang berbeda-beda, seperti Ar-Rahman, Al-Qowi, dan Al-Hafizh.
Surah Thaha ayat 8:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
“(Dialah) Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia, yang mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).`” (QS. Thaha[20]: 8)
Surah Al-Hasyr ayat 24:
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki Asmaul Husna.`” (QS. Al-Hasyr[59]: 24)
Makna Husna Secara Bahasa dan Syariat
Kata husna secara bahasa merupakan dari kata ahsan, yang berarti nama yang paling bagus, paling sempurna, dan paling agung. Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ
“…dan Allah mempunyai sifat Yang Mahatinggi.” (QS. An-Nahl[16]: 60)
Nama-nama Allah disebut husna karena setiap nama mengandung sifat kesempurnaan. Jika sebuah nama tidak mengandung sifat dan hanya sebatas label, maka nama tersebut tidak dapat dikatakan husna. Hal ini membantah keyakinan kaum Mu’tazilah yang menetapkan nama bagi Allah namun menolak sifat-sifat-Nya. Jika suatu nama menunjukkan sifat yang tidak sempurna, maka nama tersebut tidak termasuk ke dalam Asmaul Husna.
Nama-nama Allah tidak disebut husna jika menunjukkan pada sifat yang kurang atau sifat yang mengandung unsur pujian di satu sisi namun celaan di sisi lain. Terdapat sifat Allah yang jika ditetapkan secara mutlak akan menjadi sebuah kekurangan, namun menjadi sempurna jika ditetapkan pada konteks tertentu. Sebagai contoh, Allah memiliki sifat marah. Jika Allah disebut “Maha Pemarah” secara mutlak, hal itu menjadi sebuah kekurangan. Namun, sifat marah menjadi sempurna ketika ditujukan kepada pihak yang memang berhak mendapatkan kemurkaan.
Hal serupa berlaku pada sifat makar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ
“Dan mereka bermakar, Allah pun membalas makar mereka.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 54)
Sifat makar tidak boleh dimutlakkan menjadi “Maha Pemakar”, tetapi ditetapkan sebagai bentuk keadilan Allah terhadap orang-orang yang berhak mendapatkannya. Dengan demikian, sifat tersebut menunjukkan kesempurnaan.
Perbedaan Standar Kesempurnaan Khaliq dan Makhluk
Terdapat sifat yang dianggap sempurna bagi makhluk, tetapi menjadi kekurangan jika dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi manusia, kemampuan untuk tidur adalah sebuah kesempurnaan dan kebutuhan, namun bagi Allah, tidur adalah sebuah kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
Demikian pula dengan memiliki anak. Bagi manusia, memiliki keturunan adalah kesempurnaan untuk melanjutkan generasi, tetapi bagi Allah, hal itu adalah kekurangan karena Allah Maha Hidup dan tidak membutuhkan penerus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
“Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 3)
Kandungan Makna dalam Nama-Nama Allah
Setiap nama Allah menunjukkan sifat yang sempurna dan memiliki makna yang berbeda antara satu nama dengan nama lainnya. Sebagai contoh, nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim keduanya berasal dari kata rahmah (kasih sayang). Para ulama menjelaskan bahwa Ar-Rahman adalah sifat-Nya, sedangkan Ar-Rahim adalah perbuatan-Nya. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Yang Maha Penyayang lagi Maha Menyayangi”.
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Ar-Rahman adalah rahmat Allah yang mencakup seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir. Sedangkan Ar-Rahim khusus bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman-Nya:
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
“…dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab[33]: 43)
Selain itu, nama Al-Aziz menunjukkan sifat keperkasaan (izzah), Al-Khaliq menunjukkan sifat menciptakan (khalq), dan Al-Karim menunjukkan sifat kedermawanan (karam). Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menegaskan bahwa semua nama Allah adalah nama pujian. Jika nama-nama tersebut hanya berupa lafal tanpa makna, maka tidak terpuji.
Memahami Asmaul Husna beserta makna-maknanya merupakan fondasi utama dalam beragama. Pengetahuan ini akan menyebabkan seorang hamba merasa lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuai dengan perintah-Nya:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Milik Allahlah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)
Realisasi dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berdoa menggunakan nama-nama-Nya hanya dapat tercapai apabila seseorang memahami makna di balik nama-nama tersebut. Tanpa pemahaman makna, seseorang tidak akan mampu berdoa dengan penghayatan yang benar. Oleh karena itu, umat Islam harus bersemangat mempelajari 99 nama Allah yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana para ulama telah bersungguh-sungguh mencari dalilnya dalam Al-Qur’an dan hadits.
Apabila seseorang mentadaburi doa-doa di dalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia akan menemukan bahwa kebanyakan doa tersebut ditutup dengan menyebut Asmaul Husna. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara nama Allah yang disebut dengan isi permintaan dalam doa. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Wahai Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 127)
Penyebutan As-Sami’ (Maha Mendengar) dan Al-Alim (Maha Mengetahui) di akhir ayat tersebut sangat serasi dengan permohonan agar Allah mendengar doa serta mengetahui amal yang telah dikerjakan. Contoh lainnya terdapat dalam ayat berikut:
رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
“Wahai Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 109)
Download MP3 Kajian Tentang Sifat Nama-Nama Allah Adalah Husna
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56032-sifat-nama-nama-allah-adalah-husna/